Karakteristik Akhlak Seorang Muslim
Desember 19th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Akhlak adalah perangai, sifat atau tingkah laku yang sudah menjadi kebiasaan. Tingkah laku yang tidak atau belum menjadi kebiasaan tentu belum dikatakan akhlak. Imam Ghazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Untuk itu perangai yang baik perlu dibiasakan agar menjadi akhlak. Aristoteles berkata “Akhlak is not an act, it’s a habbit” (dengan sedikit perubahan).
Berikut ini adalah karakteristik akhlak seorang muslim yang dipaparkan oleh Ust. Aam Amiruddin dalam Majelis Percikan Iman:
1. Rabbaniyah
Rabbaniyah maksudnya adalah sesuai dengan wahyu Allah yaitu alquran dan juga sunnah Nabi Muhammad SAW. Mengapa sunnah nabi juga? karena apa yg diucapkan dan dikerjakan oleh nabi semata-mata tidak memeperturutkan hawa nafsunya melainkan atas bimbingan Allah SWT. Simak firman Allah berikut:
“dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm 53: 3)
Tugas utama rosul diutus di muka bumi ini adalah menyempurnakan akhlak manusia.
“Aku hanya diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.“ (H.R. Bukhari)
2. ‘Alamiyah wa syumul
Sebagai konsekuensi logis dari ciri pertama akhlak sorang muslim yaitu Rabbaniyah, maka ciri selanjutnya adalah bersifat universal (‘alamiyah) dan komprehensif (syumul). Mengapa bisa begitu? karena wahyu itu berasal dari Allah, raja dan pengatur alam semesta, maka wahyunya bersifat universal untuk semua makhluk ciptaannya dan komprehensif mencakup seluruh aspek kehidupan.
Katakanlah : “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin , lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang mena’jubkan, memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak beranak.” (Q.S. Al-Jin 72: 1-3)
3. Insaniah
Insaniah maksudnya adalah sesuai fitrah. Fitrah artinya adalah awal penciptaan bisa juga diartikan sifat-sifat dasar manusia. Fitrah paling dasar manusia adalah membutuhkan Allah dan meng-esakan-Nya atau dalam kata lain Tauhid.
Dan , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka : “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul , kami menjadi saksi”. agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini “, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” (Q.S. Al-A’rof 7: 172-173)
“Semua bayi terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanya lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (H.R. Muslim)
Sebagai manusia tentunya memiliki sifat dasar, yaitu suka terhadap lawan jenis, anak, harta, dll. Itu semua sesuai fitrah manusia.
Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik . (Q.S. Ali Imron 3: 14)
4. Tawazun
Tawazun artinya moderat atau seimbang. Hendaknya seorang muslim berakhlak moderat atau seimbang karena Rasulullah sendiri adalah pribadi yang seimbang. Perhatikan hadits berikut:
Dari Saad bin Abi Waqqash berkata bahwa Rasulullah SAW mengunjunginya saat sakit. Beliau bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, aku ingin mewasiatkan seluruh hartaku, bolehkah?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak”. “Setengah hartaku?”, beliau menjawab,”Tidak”. “Sepertiga ?” Rasulullah SAW menjawab,”Ya, sepertiga dan sepertiga itu banyak…” (HR Bukhari Muslim)
Padahal kala itu Saad bin Abi Waqqash tidak mempunyai tanggungan lagi, karena anak-anaknya sudah sukses dengan usahanya masing-masing. Namun Rosulullah SAW melarangnya menginfakan seluruh hartanya. Karena dalam hartanya ada hak bagi ahli warisnya.
Kita tidak boleh terlalu memikirkan akhirat sampai meninggalkan kesenangan didunia, walaupun kehidupan akhirat adalah lebih utama daripada kehidupan dunia.
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S Al-Qasas 28: 77)
5. Al-waqi’iyah
Al-waqi’iyah artinya realistis dan bisa diartikan logis.
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. An-Nisa 4: 9)
6. Al-jazaa
Al-jazaa artinya imbalan atau balasan. Maksudnya adalah seorang muslim harus ingat bahwa semua yang dilakukannya akan mendapat balasan dari Allah SWT.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat nya pula. (Q.S. Az-Zalzalah 99: 7-8)
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: ” kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan : “Salaamun’alaikum , masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. An-Nahl 16: 30-32)
- Resume kuliah MPI tgl 11, 18 Desember 2011 dengan beberapa penambahan -