Embedded System

November 2nd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Pengertian embedded system menurut wikipedia adalah sebuah sistem komputer yang didesain untuk melakukan suatu pekerjaan khusus. Embedded system biasanya merupakan bagian dari perangkat yang lebih besar yang didalamnya terdapat hardware dan peralatan mekanik. Tidak seperti PC yang didesain fleksibel dan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pengguna, embedded system mengontrol hardware dengan tugas yang khusus. Saat ini embedded system telah ditanamkan kedalam: automatic teller machine (ATM), cellular phone, kamera digital, dan masih banyak lagi. Pada kamera digital contohnya, embedded system diimplementasikan untuk menyediakan fitur autofocus.

Dengan embedded system memungkinkan kita mengontrol hardware agar melakukan suatu tugas yang spesifik. Tidak seperti sistem komputer yang di bangun di PC, embedded system relatif lebih cepat dalam runtime bahkan seringkali real time karena embedded system dibangun dengan bahasa pemrograman yang lebih dekat/dikenali oleh hardware. Bahasa pemrograman yang biasa digunakan untuk membangun embedded system diantaranya: Ada, Java, System C, VHDL, dan lain-lain.

Akhir-akhir ini trend penerapan embedded system semakin meningkat. Hal ini dibuktikan banyaknya peralatan elektronik canggih yang ditanamkan embedded system didalamnya. Selain itu, tidak seperti dahulu, saat ini harga komponen-komponen elektronik dan mekanik sangat murah, sehingga kendala biaya untuk membeli komponen-komponen tersebut tidak ada lagi.

Dibalik semakin positifnya trend penerapan embedded system, kita, khususnya mahasiswa yang mempelajari ilmu yang berhubungan dengan komputer seringkali terlalu pesimis terlebih dahulu jika harus mempelajari embedded system, dampaknya, minat terhadap bidang embedded system sangat minim di kalangan mahasiswa jurusan komputer.

Jika kita menanyakan alasan kepada para mahasiswa jurusan komputer mengapa tidak begitu tertarik terhadap embedded system maka jawaban mereka biasanya: susah mempelajari hardware-nya. Memang, embedded system selalu berhubungan dengan hardware karena nantinya sistem yang dibuat akan di tanamkan kedalam hardware. Dahulu memang pekerjaan yang dilakukan di sisi hardware boleh dikatakan lebih besar porsinya (> 50%) daripada pekerjaan yang dilakukan di sisi software dalam membangun suatu embedded system. Tapi sekarang pekerjaan di sisi software lebih besar porsinya (95%) daripada pekerjaan di sisi hardware. Pekerjaan dari mulai merancang model, implementasi kedalam bahasa pemrograman, dan simulasi merupakan pekerjaan di sisi software, setelah pekerjaan-pekerjaan tersebut selesai, baru di tanamkan di hardware. Jadi sebenarnya alasan para mahasiswa jurusan komputer yang menyebutkan sulitnya mempelajari hardware kurang tepat, karena justru dalam membangun embedded system lebih banyak pekerjaan yang dilakukan di sisi software-nya, tapi tetap mahasiswa minimal harus mempunyai pengetahuan tentang hardware-nya.

Selain masalah hardware yang menjadi kendala bagi mahasiswa jurusan komputer, timbul masalah lain yaitu bahasa pemrograman yang ‘asing’. Ya, bahasa pemrograman seperti Ada, System C, dan VHDL bisa dibilang ‘asing’ karena mahasiswa lebih familiar dengan Java, C, PHP, dll. Dari 2 hal yang menjadi kendala kurangnya minat mahasiswa komputer terhadap bidang embedded system, menjadikan tantangan bagi kita selaku mahasiswa dan juga bagi institusi pendidikan serta dosen dalam menjawab trend embedded system yang semakin meningkat.

Intelligent Transportation System (ITS)

Mei 1st, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Menurut wikipedia, ITS mengacu pada upaya untuk menerapkan teknologi informasi dan komunikasi pada infrastruktur transportasi dan kendaraan yang bertujuan untuk mengelola faktor-faktor yang biasanya saling bertentangan, yaitu kendaraan, beban, dan rute untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi pemakaian kendaraan, waktu tempuh transportasi, dan konsumsi bahan bakar.

Di Negara-negara maju seperti Jepang, Korea selatan, Amerika serikat, dan Kanada ITS telah diimplementasikan dengan baik untuk menangani masalah kemacetan lalu lintas. Kita tahu masalah transportasi utama di Negara-negara tersebut adalah tidak seimbangnya pertumbuhan jalan dengan bertambahnya jumlah kendaraan pribadi. Pertumbuhan jalan sudah maksimum sedangkan jumlah kendaraan pribadi semakin bertambah, inilah salah satu penyebab kepadatan arus lalu lintas. Dengan ITS masalah kepadatan lalu lintas dapat diatasi.

ITS diterapkan berbeda-beda di tiap wilayah, tergantung masalah transportasi yang dihadapi, contoh jenis penerapan ITS antara lain:

Area Traffic Control System (ATCS)
ATCS adalah sebuah sistem pengaturan lalu lintas bersinyal terkoordinasi yang diatur mencakup satu wilayah secara terpusat. Dengan ATCS, penataan siklus lampu lalu lintas dilakukan berdasarkan input data lalu lintas yang diperoleh secara real time melalui kamera CCTV pemantau lalu lintas pada titik-titik persimpangan.

Di kota-kota besar di Indonesia ATCS sudah diterapkan di persimpangan-persimpangan jalan yang padat. Walaupun ATCS sudah diimplementasikan namun kemacetan lalu lintas tetap terjadi, ini disebabkan karena peralatan ATCS nya tidak berfungsi, usut punya usut ternyata masalahnya adalah tidak adanya tenaga teknis yang mengoperasikannya dan tidak adanya daya listrik yang cukup tersedia sehingga ATCS dibiarkan menganggur tanpa pemeliharaan dan akhirnya rusak.

Electronic Toll Collection System (ETCS)
Persoalan klasik di jalan tol adalah lama waktu yang diperlukan untuk transaksi pelanggan di gerbang tol. ETCS diterapkan untuk mempersingkat waktu transaksi di gerbang tol dengan prinsip E-Payment atau Cashless Payment, yaitu pembayaran secara elektronis, tanpa menggunakan uang tunai atau Pemrosesan transaksi secara eletronis menggunakan jalur telekomunikasi antar gerbang tol.

Di Malaysia, ETCS telah diterapkan dengan baik, sehingga jalan tol disana memang benar-benar jalan bebas hambatan. Di Indonesia belum diterapkan ETCS dikarenakan sedikitnya ada 2 pertimbangan, yaitu: masalah pertama, investasi yang mahal untuk menghadirkan teknologi ETCS, dan masalah kedua adalah terjadi dilema jika ETCS benar-benar diterapkan di Indonesia, karena akan menambah jumlah pengangguran. Ya, dengan ETCS berarti para petugas di gerbang tol tidak dibutuhkan lagi karena semuanya sudah diatasi oleh peralatan elektronik dan telekomunikasi.

Perkembangan IPv6

Maret 11th, 2010 § 6 Komentar

Seperti diketahui, saat ini yang menjadi standard dari TCP/IP adalah Internet Protocol versi 4 atau yang lebih dikenal dengan IPv4. IPv4 menggunakan data selebar 32 bit, dengan data sebesar 32 bit itu dapat mengalamatkan paling banyak 2^32 (dua pangkat tiga puluh dua) buah perangkat. Atau paling banyak sebanyak 4.294.697.296 buah perangkat aktif di internet. Perangkat disini bias berupa pc, notebook, printer, HP, router, dan alat-alat lainnya yang terkoneksi dengan jaringan global TCP/IP.

Di masa mendatang kecenderungan pemakaian IP secara besar-besaran akan terjadi. Contohnya di jepang alat-alat rumah tangga memiliki alamat IP masing-masing agar dapat saling berkomunikasi. Selain itu, tren peningkatan pengguna internet aktif sedang marak di berbagai Negara. Berdasarkan data di Internet Usage Statistics data per-tanggal 9 maret 2010 menunjukkan hanya 25.6% saja dari populasi penduduk dunia yang menggunakan/terjangkau internet. Artinya masih butuh sekitar 3 kali jumlah IP yang sudah digunakan saat ini agar seluruh populasi dunia terkoneksi dengan internet.

Kesadaran akan habisnya alokasi IPv4 ini mendorong para ahli untuk menciptakan IPv6 pada tahun 1996.

Secara umum IPv6 menyediakan alokasi alamat IP yang lebih banyak dibanding IPv4 yaitu sebanyak 2^128 (dua pangkat seratus dua puluh delapan)

atau sama dengan 340.282.366.920.938.463.463.374.607.431.768.211.456 buah IP Address!!!

Selain dari segi jumlah, IPv6 juga unggul dalam beberapa hal dari IPv4 yaitu:

  1. Lebih secure
  2. Serverless
  3. Hirarki addressnya jelas sehingga memudahkan routing

Baca selengkapnya

Di mana saya?

You are currently browsing entries tagged with kapita selekta at Catatanku.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.