Quran Al-Qashas (28: 1-75)
September 27th, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar
- Kisah Nabi Musa -> (1-43)
- Perjumpaan dengan 2 perempuan penggembala kambing di Madyan, anak Nabi Syu’aib, yang kelak salahsatunya akan jadi istri Musa (23-28)
- Pengangkatan Musa sebagai Rasul di gunung Thur, melalui seruan Allah (30)
- Dialog Allah dengan Musa dan di berikannya mukjizat agar nantinya ditunjukkan kepada fir’aun dan dikuatkannya Musa dengan Harun yang lebih fasih berbicara (30-35)
- Musa memperlihatkan salahsatu Mukjizatnya di depan Fir’aun yakni tongkat berubah menjadi ular (36)
- Fir’aun sombong, ingin membuat bangunan yang tinggi agar dapat melihat Tuhannya Musa (38)
Pelajaran yang bisa diambil: wanita boleh terlebih dahulu mengungkapkan keinginan menikahi pria pilihannya lewat ayah atau walinya. Biasanya si wanita malu-malu tidak mengungkapkan keinginan nikahnya secara langsung tetapi dengan permintaan lain misalnya si pria pilihan diminta untuk bekerja pada ayahnya, disini dituntut kepekaan si ayah untuk memahami keinginan anaknya menikahi pria pilihan anaknya. Kemudian ayahnya lah yang akan menawarkan putri nya kepada si pria.
- Allah menantang kaum Quraisy lewat Rasulullah untuk membuat kitab yang lebih memberi petunjuk dari Taurat dan Al-Qura’an (49-50)
- Amal setiap orang akan ditanggung sendiri-sendiri (55)
- Nabi Muhammad-pun tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang dikasihinya, hanya Allah yang bisa memberikan petunjuk sekehendak-Nya (56)
- Apa-apa yang disisi Allah lebih baik dan lebih kekal daripada apa-apa yang di dunia (kekayaan, jabatan, keturunan) (60)
- Allah mengingatkan bahwa siang dan malam adalah ayat-ayat Nya (71-73)
- Allah menegur, bagaimana jika dijadikan malam terus sampai hari kiamat? (71)
- Allah menegur, bagaimana jika dijadikan siang terus sampai hari kiamat? (72)
- Siang dan malam adalah rahmat-Nya agar malam dijadikan untuk istirahat dan siang untuk mencari sebagian karunia-Nya (73)
- Allah datangkan dari setiap umat seorang Nabi/rasul (75)
- Kisah Qarun (76-82)
- Carilah pahala akhirat tetapi jangan lupakan bagian didunia (77)
- Pahala yang besar hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar (80)
- Qarun dibenamkan bersama hartanya kedalam bumi (81)
- Akhirat itu bagi orang-orang yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan surga hanya bagi orang-orang yang taqwa (83)
- Barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka pahalanya lebih dari kebaikan yang dikerjakan. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka balasannya seimbang dengan kejahatan yang dilakukan (84)
- Nabi Muhammad tidak pernah mengharapkan agar Quran diturunkan kepadanya, tetapi Allah turunkan kepadanya sebagai rahmat (86)
Hasbunallah wa ni’mal wakil
Januari 23rd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar
“Hasbunallah wa ni’mal wakil”, diucapkan oleh Ibrahim tatkala dia dilemparkan ke dalama api, sehingga api itu tiba-tiba menjadi dingin dan tidak menghancurkan Ibrahim. “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, juga diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW saat perang Uhud, kemudian Allah pun menolongnya.
Tatkala Ibrahim diletakkan di manjaniq, Jibril bertanya kepadanya, “Apakah engkau butuh kepadaku?” Ibrahim menjawab, “Kalau kepadamu tidak, tapi kalau kepada Allah, ya.”
Laut itu bersifat menenggelamkan, dan api bersifat membakar. Namun air laut itu bisa menjadi kering dan api bisa menjadi dingin, disebabkan: “Hasbunallah wa ni’mal wakil”.
Musa melihat lautan di depan matanya dan musuh mengejar di belakangnya. Maka ia pun berkata:
“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 62)
Dan, ia pun, dengan seizin Allah, selamat.
Disebutkan di dalam Sirah Rasulullah bahwa tatkala dia masuk gua Hira’ Allah kemudian menundukkan merpati supaya membuat sarangnya dan laba-laba merajut rumahnya di mulut gua. Sehingga orang-orang musyrik berkeyakinan bahwa Muhammad tidak mungkin masuk ke dalam gua ini.
Mereka mengira merpati tidak membuat sarangnya dan laba-laba merajut rumahnya untuk sebaik-baik makhluk-Nya Perlindungan Allah tak membutuhkan tameng-tameng pelindung, tidak pula benteng yang tinggi menjulang.
Ketika hamba menyadari bahwa semua ini adalah perlindungan rabbani tentunya ia juga akana menyadari bahwa di sana ada Rabb Yang Maha Kuasa, Maha Penolong, Pelindung, dan Maha Pengasiuh. Dan, saat itulah ia bergantung kepada-Nya.
Syauqi berkata dalam sebuah syairnya, Jika pertolongan Allah telah menetapkan matanya tidurlah, karena semua akan aman adanya.
Maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. (Q.S. Ath-Thur: 48)
Maka, Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (Q.S. Yusuf: 65)
Sumber: Buku La Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni
Keutamaan Muharram dan Anjuran Shaum ‘Assyura
Desember 18th, 2009 § 10 Komentar
Alhamdulillah kita telah memasuki tahun 1431 H, semoga di tahun ini kita semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dan Allah selalu menetapkan hati kita di jalan-Nya. Bicara tentang tahun baru islam berarti bicara tentang bulan yang dirahmati Allah yaitu bulan muharram. Bulan muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah dan dimuliakan rasulullah SAW. Sepatutnya kitapun memuliakan bulan muharram seperti yang rasulullah ajarkan, yaitu shaum di hari ‘assyura. Hari ‘assyura adalah hari kesepuluh di bulan muharram. Mengapa kita perlu shaum/puasa di hari ‘assyura? Kelebihan-kelebihan apakah yang dimiliki bulan muharram? Berikut penjelasannya.
1. Salahsatu dari 4 bulan haram yang dimuliakan Allah.
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah: 36)
Para ulama menyatakan bahwa Muharram itu artinya “dilarang”. Bulan ini pada zaman Jahiliyah dianggap sebagai bulan yang suci dan juga dimuliakan sehingga setiap orang tidak boleh melakukan peperangan. Begitulah wujud penghormatan masyarakat Jahiliyah terhadap bulan ini. Namun setelah Islam datang kebiasan seperti itu dihilangkan.