Lagi…Akhlak Rasulullah

September 7th, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Entah mengapa tiap kali mendengar tausiyah atau membaca literatur yang menggambarkan ketinggian akhlak rasulullah terutama kelembutannya hati ini bergetar dan kadang tak terasa ada yang menetes dari ujung mataku… memang ketika membaca sirah nabawiyah disana akan ditemukan perjuangan dan ketegasan bukan melulu kelembutan, tapi kelembutan itu yang membuatku meleleh… semoga saya dan pembaca terprovokasi agar terus mencintainya, yaitu dengan mengamalkan sunnah nya dan memurnikan ajarannya, ….dan hari ini saya membaca lagi catatan kecil tentang kelembutan akhlak rasulullah berikut…

ya nabi salam ‘alaika..

Ia menambal sandalnya, menambal kainnya, mengurus kepentingan keluarganya, memotong daging bersama mereka, mengaduk gandum pembuat roti bagi mereka, memberi makan untanya, memerah susu kambingnya, berangkat ke pasar dan menenteng sendiri belanjaannya, serta menyapu rumahnya. Di rumah ia lebih pemalu daripada seorang perempuan sahaya. Ia tidak meminta makanan pada keluarganya, setidaknya, ia tidak pernah menyatakan keinginan itu pada mereka. Kalau mereka berikan makanan padanya, ia makan apapaun yang mereka berikan. Tak jarang ia ambil sendiri makanan dan minumannya.

Bersamanya ada hamba sahaya lelaki dan perempuan, yang membantunya. Tiada ia meninggikan diri atas mereka, dalam hal makanan dan pakaian. Sikapnya pada mereka, tidak beda dengan keluarganya, lemah lembut dan bijaksana. Ia anjurkan anggota keluarganya untuk bersikap demikian pula.

Ia hadir pada walimah– walimah, menyambangi orang–orang sakit, dan melayat jenazah. Ia keluar ke kebun–kebun sahabatnya. Memenuhi undangan para budak dan orang–orang merdeka. Ia berjalan sendiri, tanpa pengawal, bahkan diantara musuh–musuhnya dalam kecamuk peperangan.

Baca selengkapnya

Kepergian yang Begitu Cepat (Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW) part 3/final

Februari 3rd, 2010 § 2 Komentar

Saat-saat terakhir…

Menjelang sekarat, Aisyah menyandarkan kepala beliau ke dadanya. Konon Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya, di antara karunia Allah yang besar kepadaku ialah Dia membiarkan Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hariku dan diantara dagu dan dadaku. Allah menakdirkan air ludahku bercampur dengan ludah beliau saat kematiannya. Ketika itu Abdurrahman bin Abu Bakar datang menjenguk dan di tangannya ada sebatang siwak, sedangan kepala Rasulullah SAW tersandar padaku. Kulihat beliau menatap siwak tersebut, dan kutahu bahwa beliau memang menyukai siwak, maka aku bertanya, “Engkau mau kuambilkan?” Beliau pun menganggukkan kepalanya. Maka kuambilkan siwak tersebut, akan tetapi ia terlalu kaku bagi beliau. “Engkau ingin aku melunakkannya?” tanyaku. Beliau pun menganggukkan kepalanya lagi. Maka kukunyah siwak tersebut hingga lunak dan kusodorkan kepadanya. Beliau pun mulai bersiwak dan belum pernah kulihat beliau bersiwak sebaik sebelumnya.

Saat itu di depan beliau ada semangkuk air, beliau mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk dan mengusap wajahnya seraya berkata, “La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”

Begitu selesai bersiwak, beliau mengangkat telunjuknya dan melayangkan pandangan keatap rumah sembari kedua bibir beliau komat-kamit. Aisyah pun berusaha mendengar apa yang beliau ucapkan, maka terdengar beliau mengatakan, “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka; dari para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para shalihin. Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan ikutkanlah aku dengan teman-teman yang tinggi disana, Ya Allah, ar-Rafiq al-A’la…” Beliau mengulangi kalimat yang terakhir ini tiga kali, kemudian tangannya terkulai dan beliau wafat.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…!!! (lihat ar-rahiq al-makhtum, 1/457 oleh syaikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri).

Berita yang menggemparkan ini segera tersebar luas. Hari itu benar-benar hari kelabu bagi warga Madinah seluruhnya. Anas bin Malik r.a. mengatakan, “Aku tak pernah menyaksikan hari yang lebih indah dan bercahaya dibandingkan saat Rasulullah SAW tiba di Madinah; dan tak ada hari yang lebih kelabu dan menyedihkan daripada hari kematian beliau SAW.” (lihat ar-rahiq al-makhtum, 1/457 oleh syaikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri).

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadamu, ya Rasulullah.

Sebelumnya part 1, part 2

Disalin dari buku “Andai si Mati Bisa Bicara” karya Sufyan bin Fuad Baswedan

Kepergian yang Begitu Cepat (Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW) part 2

Februari 3rd, 2010 § 2 Komentar

Lima hari menjelang dipangggil Allah, sakit beliau semakin parah. Demamnya makin tinggi hingga kadang beliau pingsan tak sadarkan diri. Beliau mengatakan, “Guyurkan kepadaku tujuh kantung air yang diambil dari berbagai sumur. Aku ingin keluar menemui orang-orang dan mengikat janji atas mereka.” Maka para sahabat mendudukan beliau di pojok kamar dan mengguyurkan air kepadanya hingga beliau berkata, “Cukup cukup…”

Setelah merasa agak sehat, beliau bangkit menuju masjid sambil berkemul dengan selembar selimut di pundaknya, dan sebuah ikatan kencang melilit kepala beliau guna menahan rasa pening. Begitu duduk di mimbar, beliau mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah lalu mengatakan, “Saudaraku sekalian, kemarilah…” Maka serentak para sahabat mengerumuni beliau. Kemudian beliau mulai berpesan yang diantaranya mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid,” kemudian mengatakan, “Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai masjid.”

Beliau pun merelakan dirinya untuk di-qishash seraya berkata, “Siapa saja yang pernah kudera punggungnya, maka inilah punggungku, silakan ia menderanya. Dan siapa saja yang pernah kucela kehormatannya, maka inilah kehormatanku, silakan ia mencelanya.”

Kemudian beliau mengatakan, “Sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara menikmati dunia sesukanya, atau memilih apa yang ada di sisi-Nya, maka ia pun memilih apa yang ada di sisi Allah”. Abu Sa’id al-Khudri menuturkan, “Usai mendengarnya, Abu Bakar langsung menangis, ia mengatakan, “Kami tebus engkau denga ayah dan ibu kami, wahai Rasulullah…!!” Kami pun heran terhadapnya dan orang-orang mengatakan “Lihatlah Pak Tua (Abu Bakar) itu. Rasulullah SAW mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan antara kenikmatan dunia dengan apa yang ada di sisi Allah, tapi dia malah mengatakan, “Kami tebus engkau dengan ayah dan ibu kami??” Ternyata Rasulullah-lah orang yang dimaksud, dan Abu Bakar memang yang paling alim diantara kita. (lihat ar-rahiq al-makhtum, 1/457 oleh syaikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri).

Baca selengkapnya

Kepergian yang Begitu Cepat (Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW) part 1

Februari 3rd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Madinah, 1 H / 624 M

Siang itu, kota Madinah penuh sesak oleh warganya yang tak sabar menanti kedatangan kekasih Allah. Mereka berjajar rapi di pinggir kota sambil sesekali meletakkan tangan di atas alis, melihat-lihat barangkali sosok manusia yang mereka tunggu mulai terlihat dari kejauhan. Sebagiannya bahkan memanjat pohon untuk menatap lebih jauh. Benar, hari itu hari yang amat bersejarah bagi seluruh warga Madinah, khususnya kaum muslimin.

Tak lama kemudian, nampaklah dari kejauhan tiga sosok manusia. Dua orang membonceng unta dan yang seorang lagi menuntunnya. Mereka adalah Rasulullah SAW, Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dan penunjuk jalan mereka, Abdullah bin Uraiqith. Sontak warga Madinah berhamburan diiringi sorak sorai menyambut kedatangan kekasih Allah SWT. Sambil memukul rebana, kaum wanita dan anak-anak menyanyikan lagu thala’al badru ‘alaina…

Sungguh, kedatangan beliau SAW benar-benar member pencerahan bagi warga Madinah. Ibarat bintang kejora, kedatangan beliau menjadikan kota tersebut bercahaya, seakan memberi nuansa baru bagi kehidupan warganya. Cahaya kenabian nampak  jelas di wajah beliau, membiaskan  selaksa akhlak mulia dan budi pekerti nan tinggi. Siapapun yang menatap wajahnya pastilah yakin bahwa beliau seorang nabi.

Semenjak itu, urat nadi kehidupan warga Madinah senantiasa berdenyut seiring turunnya wahyu. Dendam kesumat antara suku Aus dan Khazraj yang sejak berabad-abad, mendadak berubah menjadi persahabatan erat. Hijrah beliau ternyata merupakan titik tolak terpenting dari kejayaan Islam di masa-masa berikutnya.

Baca selengkapnya

Hasbunallah wa ni’mal wakil

Januari 23rd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Hasbunallah wa ni’mal wakil”, diucapkan oleh Ibrahim tatkala dia dilemparkan ke dalama api, sehingga api itu tiba-tiba menjadi dingin dan tidak menghancurkan Ibrahim. “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, juga diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW saat perang Uhud, kemudian Allah pun menolongnya.

Tatkala Ibrahim diletakkan di manjaniq, Jibril bertanya kepadanya, “Apakah engkau butuh kepadaku?” Ibrahim menjawab, “Kalau kepadamu tidak, tapi kalau kepada Allah, ya.”

Laut itu bersifat menenggelamkan, dan api bersifat membakar. Namun air laut itu bisa menjadi kering dan api bisa menjadi dingin, disebabkan: “Hasbunallah wa ni’mal wakil”.

Musa melihat lautan di depan matanya dan musuh mengejar di belakangnya. Maka ia pun berkata:

“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 62)

Dan, ia pun, dengan seizin Allah, selamat.

Disebutkan di dalam Sirah Rasulullah bahwa tatkala dia masuk gua Hira’ Allah kemudian menundukkan merpati supaya membuat sarangnya dan laba-laba merajut rumahnya di mulut gua. Sehingga orang-orang musyrik berkeyakinan bahwa Muhammad tidak mungkin masuk ke dalam gua ini.

Mereka mengira merpati tidak membuat sarangnya dan laba-laba merajut rumahnya untuk sebaik-baik makhluk-Nya Perlindungan Allah tak membutuhkan tameng-tameng pelindung, tidak pula benteng yang tinggi menjulang.

Ketika hamba menyadari bahwa semua ini adalah perlindungan rabbani tentunya ia juga akana menyadari bahwa di sana ada Rabb Yang Maha Kuasa, Maha Penolong, Pelindung, dan Maha Pengasiuh. Dan, saat itulah ia bergantung kepada-Nya.

Syauqi berkata dalam sebuah syairnya, Jika pertolongan Allah telah menetapkan matanya tidurlah, karena semua akan aman adanya.

Maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. (Q.S. Ath-Thur: 48)

Maka, Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.
(Q.S. Yusuf: 65)

Sumber: Buku La Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni

Hidup Sehat ala Rasulullah

Februari 15th, 2009 § 4 Komentar

Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain2 penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yg lainnya. Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

Baca selengkapnya

Andaikata Rasulullah Menjadi Tamu Kita

Januari 7th, 2009 § 1 Komentar

Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum……..

Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam. Beliau tentu tetap tersenyum……..

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang  kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu tersenyum…….

Baca selengkapnya

Di mana saya?

You are currently browsing entries tagged with Rasulullah at Catatanku.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.