Kepergian yang Begitu Cepat (Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW) part 3/final
Februari 3rd, 2010 § 2 Komentar
Saat-saat terakhir…
Menjelang sekarat, Aisyah menyandarkan kepala beliau ke dadanya. Konon Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya, di antara karunia Allah yang besar kepadaku ialah Dia membiarkan Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hariku dan diantara dagu dan dadaku. Allah menakdirkan air ludahku bercampur dengan ludah beliau saat kematiannya. Ketika itu Abdurrahman bin Abu Bakar datang menjenguk dan di tangannya ada sebatang siwak, sedangan kepala Rasulullah SAW tersandar padaku. Kulihat beliau menatap siwak tersebut, dan kutahu bahwa beliau memang menyukai siwak, maka aku bertanya, “Engkau mau kuambilkan?” Beliau pun menganggukkan kepalanya. Maka kuambilkan siwak tersebut, akan tetapi ia terlalu kaku bagi beliau. “Engkau ingin aku melunakkannya?” tanyaku. Beliau pun menganggukkan kepalanya lagi. Maka kukunyah siwak tersebut hingga lunak dan kusodorkan kepadanya. Beliau pun mulai bersiwak dan belum pernah kulihat beliau bersiwak sebaik sebelumnya.
Saat itu di depan beliau ada semangkuk air, beliau mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk dan mengusap wajahnya seraya berkata, “La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”
Begitu selesai bersiwak, beliau mengangkat telunjuknya dan melayangkan pandangan keatap rumah sembari kedua bibir beliau komat-kamit. Aisyah pun berusaha mendengar apa yang beliau ucapkan, maka terdengar beliau mengatakan, “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka; dari para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para shalihin. Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan ikutkanlah aku dengan teman-teman yang tinggi disana, Ya Allah, ar-Rafiq al-A’la…” Beliau mengulangi kalimat yang terakhir ini tiga kali, kemudian tangannya terkulai dan beliau wafat.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…!!! (lihat ar-rahiq al-makhtum, 1/457 oleh syaikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri).
Berita yang menggemparkan ini segera tersebar luas. Hari itu benar-benar hari kelabu bagi warga Madinah seluruhnya. Anas bin Malik r.a. mengatakan, “Aku tak pernah menyaksikan hari yang lebih indah dan bercahaya dibandingkan saat Rasulullah SAW tiba di Madinah; dan tak ada hari yang lebih kelabu dan menyedihkan daripada hari kematian beliau SAW.” (lihat ar-rahiq al-makhtum, 1/457 oleh syaikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri).
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadamu, ya Rasulullah.
Disalin dari buku “Andai si Mati Bisa Bicara” karya Sufyan bin Fuad Baswedan
Kepergian yang Begitu Cepat (Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW) part 2
Februari 3rd, 2010 § 2 Komentar
Lima hari menjelang dipangggil Allah, sakit beliau semakin parah. Demamnya makin tinggi hingga kadang beliau pingsan tak sadarkan diri. Beliau mengatakan, “Guyurkan kepadaku tujuh kantung air yang diambil dari berbagai sumur. Aku ingin keluar menemui orang-orang dan mengikat janji atas mereka.” Maka para sahabat mendudukan beliau di pojok kamar dan mengguyurkan air kepadanya hingga beliau berkata, “Cukup cukup…”
Setelah merasa agak sehat, beliau bangkit menuju masjid sambil berkemul dengan selembar selimut di pundaknya, dan sebuah ikatan kencang melilit kepala beliau guna menahan rasa pening. Begitu duduk di mimbar, beliau mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah lalu mengatakan, “Saudaraku sekalian, kemarilah…” Maka serentak para sahabat mengerumuni beliau. Kemudian beliau mulai berpesan yang diantaranya mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid,” kemudian mengatakan, “Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai masjid.”
Beliau pun merelakan dirinya untuk di-qishash seraya berkata, “Siapa saja yang pernah kudera punggungnya, maka inilah punggungku, silakan ia menderanya. Dan siapa saja yang pernah kucela kehormatannya, maka inilah kehormatanku, silakan ia mencelanya.”
Kemudian beliau mengatakan, “Sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara menikmati dunia sesukanya, atau memilih apa yang ada di sisi-Nya, maka ia pun memilih apa yang ada di sisi Allah”. Abu Sa’id al-Khudri menuturkan, “Usai mendengarnya, Abu Bakar langsung menangis, ia mengatakan, “Kami tebus engkau denga ayah dan ibu kami, wahai Rasulullah…!!” Kami pun heran terhadapnya dan orang-orang mengatakan “Lihatlah Pak Tua (Abu Bakar) itu. Rasulullah SAW mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan antara kenikmatan dunia dengan apa yang ada di sisi Allah, tapi dia malah mengatakan, “Kami tebus engkau dengan ayah dan ibu kami??” Ternyata Rasulullah-lah orang yang dimaksud, dan Abu Bakar memang yang paling alim diantara kita. (lihat ar-rahiq al-makhtum, 1/457 oleh syaikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri).
Kepergian yang Begitu Cepat (Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW) part 1
Februari 3rd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar
Madinah, 1 H / 624 M
Siang itu, kota Madinah penuh sesak oleh warganya yang tak sabar menanti kedatangan kekasih Allah. Mereka berjajar rapi di pinggir kota sambil sesekali meletakkan tangan di atas alis, melihat-lihat barangkali sosok manusia yang mereka tunggu mulai terlihat dari kejauhan. Sebagiannya bahkan memanjat pohon untuk menatap lebih jauh. Benar, hari itu hari yang amat bersejarah bagi seluruh warga Madinah, khususnya kaum muslimin.
Tak lama kemudian, nampaklah dari kejauhan tiga sosok manusia. Dua orang membonceng unta dan yang seorang lagi menuntunnya. Mereka adalah Rasulullah SAW, Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dan penunjuk jalan mereka, Abdullah bin Uraiqith. Sontak warga Madinah berhamburan diiringi sorak sorai menyambut kedatangan kekasih Allah SWT. Sambil memukul rebana, kaum wanita dan anak-anak menyanyikan lagu thala’al badru ‘alaina…
Sungguh, kedatangan beliau SAW benar-benar member pencerahan bagi warga Madinah. Ibarat bintang kejora, kedatangan beliau menjadikan kota tersebut bercahaya, seakan memberi nuansa baru bagi kehidupan warganya. Cahaya kenabian nampak jelas di wajah beliau, membiaskan selaksa akhlak mulia dan budi pekerti nan tinggi. Siapapun yang menatap wajahnya pastilah yakin bahwa beliau seorang nabi.
Semenjak itu, urat nadi kehidupan warga Madinah senantiasa berdenyut seiring turunnya wahyu. Dendam kesumat antara suku Aus dan Khazraj yang sejak berabad-abad, mendadak berubah menjadi persahabatan erat. Hijrah beliau ternyata merupakan titik tolak terpenting dari kejayaan Islam di masa-masa berikutnya.